Anaileukita’s Blog


Perbaikan Pendidikan = Perbaikan Motor
October 21, 2008, 4:28 am
Filed under: Uncategorized

Pembahasan tentang dunia pendidikan merupakan bahan yang tidak habis-habisnya dibahas oleh para ahli pendidikan maupun praktikal dilapangan. Tapi sampai saat ini, belum ada hal pembahasan yang dapat memberikan solusi yang menyeluruh untuk perbaikan pendidikan di Indonesia. Ini adalah pertanyaan yang menjadi latar belakang diangkatnya tulisan ini.

Jika ditinjau ulang, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak elemen-elemen yang mempengaruhi perbaikan pendidikan. Dimana elemen-elemen itu saling berintegrasi dan bersinergi satu sama lain untuk menyokong terlaksananya pendidikan. Untuk saling berintegrasi dan bersinergi itu, elemen-elemen saling tergantung oleh suatu sistem. Dari hal ini dapat dilihat bahwa jika kita bicara perbaikan pendidikan berarti sebenarnya kita sedang membicarakan perbaikan elemen-elemen pendukung dan sistem yang berlaku di pendidikan itu sendiri.

Dari pembahasan di atas, berarti ada 2 unsur yang utama yang perlu diperhatikan dalam perbaikan pendidikan yaitu elemen pendidikan dan sistem yang menghubungkan antar elemen. Contoh; Jika sebuah motor rusak, maka teknisi akan memeriksa elemen-elemen motor apakah masih baik atau sudah rudak sehingga perlu diganti, kemudian memperbaiki sistem-sistem pada motor untuk memastikan sistem tersebut bekerja dengan baik.

Dalam perbaikan pendidikan, sering pemerintah dan pelaku pendidikan kurang teliti untuk memisahkan antara elemen atau sistemnya yang salah sehingga pendidikan Indonesia kualitasnya semakin menurun. Perlu ditinjau ulang semua elemen dan sistem satu persatu secara intensif dan memcari solusinya. Seperti pada motor, jika elemen rusak maka elemen itu baru diganti tetapi kalalu tidak maka sistemnya yang harus diperbaiki. Hal ini sama dengan perbaikan dunia pendidikan. 

Ambil contoh elemen pendidikan ; GURU. Apakah sudah diperhatikan bagaimana kulaifikasi guru yang seharusnya dan selayaknya mengajar. Masih banyak guru-guru yang belum berkualifikasi guru, berdasarkan survei, guru-guru yang kurang berkualifikasi itu malah banyak terdapat dijenjang pendidikan dasar. Ini terlihat bahwa masih banyak sekolah-sekolah yang menggunakan guru kelas untuk mengajar di Sekolah-sekolah dasar, yang notabene adalah jenjang pendidikan yang paling penting untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan dan penbelajaran. Ini berarti guru kelas mengajarkan anak seluruh mata pelajaran di kelas, sehingga muncul istilah guru SD adalah guru “SAKTI”. Selain itu, guru-guru yang mengajar di pendidikan dasar biasanya berkualifikasi D2 atau D3 dari PGSD, yang hanya dibekali tentang cara mengajar dengan baik. Padahal untuk mengajar materi dasar, diperlukan pemahaman yang dalam oleh guru yang mengajar karena pendidikan dasar adalah pondasi terhadap pendidikan lanjutan.

Contoh di atas hanya salah satu contoh bahwa ada elemen yang rusak dalam pendidikan. Sebagaimana contoh motor di atas, kalau elemen yang rusak seharusnya diganti bukan diperbaiki, karena hanya sistem yang bisa diperbaiki. Ini berarti walaupun sistem diperbaiki kalau elemennya yang rusak maka perbaikan pada sistem tidak tepat karena perbaikan yang dilakukan tidak sesuai dengan kebutuhan untuk perbaikan tersebut.

Jadi dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa sertifikasi yang dilakukan pemerintah dalam upaya perbaikan pendidikan tidaklah tepat. Perlu ada peninjauan ulang tentang kebijakan untuk memperbaiki pendidikan dan perlu dicari cara lain untuk memperbaiki elemen ini. Salah satunya dengan melakukan penggantian guru Pendidikan dasar dengan sistem guru mata pelajaran yang kompeten di bidangnya dengan pertimbangan pendidikan dasar adalah peletak pondasi untuk kejenjang berikutnya. Bagaimana kalau pakar-pakar yang dibidangnya yang mengajar dilevel pendidikan dasar untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan ini?



Pemerataan Pendidikan di Mentawai
October 17, 2008, 8:32 am
Filed under: Uncategorized

Pendidikan adalah hal yang paling penting dalam pembangunan suatu bangsa. Salah satu parameter kemajuan suatu negara dapat dilihat dari kemajuan pendidikannya. Sehingga pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih kepada pemerataan pendidikan, khususnya di daerah-daerah yang terpencil. Salah satunya kepulauan Mentawai.

Kepulauan Mentawai terdiri dari 3 pulau besar, salah satunya dalah pulau Siberut. Pulau Siberut telah menjadi salah satu paru-paru dunia, tetapi dilain pihak masih banyak ddusun-dusun terpencil yang tidak terjangkau oleh program pendidikan dari DIKNAS Kabupaten Mentawai seperti Tinambu Desa Saliguma Siberut Tengah dimana anak-anaknya tidak bisa membaca, bahkan tidak tahu  umur mereka berapa.

Daerah itu sekitar 4 jam jalan kaku dan 2 jam naik Speed boat ke kecamatan Siberut Selatan. Diperkirakan banyak anak-anak usia sekolah yang seharusnya bersekolah karena dusun itu dihuni kira-kira 100 kepala keluarga. Mereka tinggal disepanjang aliran sungai Silak Oinan.

Anak-anak itu hanya membantu orang tuanya diladang dan bahkan ada yang tidak tau apa itu sekolah. Jika mereka ikut orang tuanya menjual rotan ke Kecamatan, barulah mereka mengenal dunia luar selain dunia “hutan” mereka. Selain membantu diladang mereka juga hanya membantu orang tuanya beternak sapi dan ayam. Bagi mereka dunia pendidikan merupakan dunia yang tidak terpikirkan oleh mereka bahkan membanyangkan pun mungkin tidak.

Tulisan ini hanya memberikan contoh salah satu dusun yang perlu menjadi perhatian pemerintah kabupaten Mentawai, karena masih banyak lagi anak-anak di daerah-daerah seperti ini dimentawai. Perlu pemikiran lebih mendalam tentang hal ini daripada membiaya perpustakaan sebanyak 3,3 M, mungkin akan lebih baik kalau daerah-daerah ini dibangun sekolah SD saja untuk memberikan pelayanan pendidikan dasar bagi anak-anak generasi penerus Mentawai. DPRD dan PimKab Mentawai perlu meninjau ulang tentang alokasi pendanaan yang lebih prioritas.



Hello world!
October 17, 2008, 4:42 am
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!